Login Form

Pangi Syarwi

"Bersama Membangun Bangsa"

Pakar Politik|Pangi Syarwi:Demokrasi dan Demokratisasi

GELOMBANG DEMOKRATISASI KETIGA "HUNGTINGTON"

 Sebuah kritikan

 
   

Oleh:  Pangi Syarwi

Awal Gelombang ketiga demokratisasi didunia modern berawal dan  tidak masuk akal tidak disengaja, di Lisabon , Portugal  pada hari kamis 25 April 1974, jam  00.25 saat sebuah pemancar radio siaran dari yang merupakan aba-aba dari satuan militer di Lisabon dan daerah sekitarnya mulai melaksanakan kudeta yang telah disusun secara seksama oleh para perwira muda militer yang dipimpin  oleh Movimento dan Forcas  Armadas.  Kudeta tersebut berhasil  dan terlaksana secara efesien, dengan sedikit saja perlawanan dari polisi keamanan, satuan-satuan militer dapat menduduki gedung-gedung Kementerian yang penting, stasiun radio, penyiaran, TV, kantor Pos dan Bendara.

Gelombang demokratisasi

Gelombang demokratis pertama, berakar dari revolusi Perancis dan revolusi Amerika Serikat, namun kemunculan lembaga-lembaga demokrasi nasional  yang merupakan fenomena abad ke 19. Dalam abad itu , lembaga-lembaga demokrasi  di sejumlah besar negeri berkembang secara berangsur-angsur sehinga sulit  serta subjektif dalam menyebut suatu waktu tertentu di mana setelah titik waktu itu  system politiknya diangap demokratis.

Gelombang demokratisasi kedua, sebuah gelombang demokratisasi yang pendek  mulai muncul pada masa perang dunia II. Pendudukan sekutu mendorong lahirnya lembaga-lembaga demokratis di Jerman Barat, Italia, Austria, Jepang dan Korea, sementara tekanan Soviet mematikan demokrasi yang baru lahir di Cekoslowakia  dan Hongaria, pada dasa warsa 1940-an dan awal dasa warsa  1950-an  Turki dan Yunani bergerak kearah demokrasi.

Gelombang ketiga, demokratisasi dalam masa 15 tahun setelah berakhirnya pemerintahan diktator Portugal pada tahun 1974, pada sekitar 30 Negara di Eropa, Asia dan Amerika Latin rezim rezim demokratis mengantikan rezim-rezim otoriter. Di negara negera lain berlangsung liberalisasi yang cukup berarti dalam rezim otoriter, di negeri lain ada gerakan-gerakan yang mendorong pertumbuhan demokrasi yang memperoleh kekuatan dan legitimasi .

 Urain tulisan Gelombang demokratisasi ketiga, dalam pandangan Huntington menyapu hampir semua belahan dunia kecuali negara-negara Amerika Latin yang sebagain besar kembali ke bentuk pemerintahan otoriter. Secara kalkulatif, transisi demokrasi tahun 1975 ditandai 69 persen negara-negara di dunia berezim otoriter, dan hanya 24 persen termasuk demokrasi liberal. Tahun 1995, perbandingan berubah menjadi 26 persen otoriter, 48 persen liberal.

Secara eksplisit Huntington memang tidak menyebutkan model demokrasi yang harusnya diterapkan setelah terjadinya transisi demokrasi. Ia bahkan terlihat cenderung mengajukan tesis demokrasi dalam artinya yang universal, atau secara lebih konkrit kita dapat menarik hipotesa bahwa Huntington menyodorkan konsep “democracy without adjectives”.

Secara lebih empirik, Huntungton melihat bahwa demokratisasi atau transisi menuju demokrasi di suatu negara mensyaratkan adanya tiga hal. Pertama, berakhirnya rezim otoriter. Kedua, dibangunnya rezim demokratis. Ketiga, konsolidasi rezim demokratis.

Tulisan Huntington pada Bab pertama, penulis melihat tampak sekali bahwa Huntington menempatkan demokrasi dan demokratisasi pada posisi yang saling berhadap-hadapan dengan sistem politik yang otoriter. Dengan cerdas Huntington meletakkan variabel evaluasi terhadap demokratisasi dengan melakukan perbandingan antara dua kecendrungan sistem politik yang bertentangan secara diametral itu. Dalam hal ini, secara empirik kita dikondisikan oleh Huntington untuk melihat “kebajikan” dari demokratisasi dengan mengaitkannya dengan pengalaman di bawah bayang-bayang otoritarianisme.

Dalam bukunya tersebut pada bab pertama, kita  bisa melihat yang mana Huntington juga mendiskusikan berbagai aspek stabilisasi demokrasi dan prospek konsolidasi di negara yang sedang berada dalam masa transisi demokrasi. Ia menguraikan secara singkat sejumlah kondisi-kondisi yang mampu menyokong konsolidasi demokrasi. Pengalaman demokratisasi yang pernah dilakukan sebelumnya, sekalipun itu gagal. Pertama, pembangunan ekonomi yang lebih tinggi. Kedua, lingkungan internasional yang mendukung. Ketiga, transisi menuju demokrasi sebaiknya terjadi secepat mungkin dan melibatkan masyarakat secara keseluruhan mengingat demokratisasi tertama lahir dari kecenderungan dan dorongan onternal dibandingkan tekanan atau pengaruh dari luar. Keempat, pengalaman untuk melakukan perubahan secara damai dan tidak dengan menggunakan kekerasan.

Dalam bukunya Gelombang demokratisasi ketiga  pada bab 1 dan bab 4 itu, setelah menguraikan optimismenya tentang gelombang ketiga demokratisasi di dunia, Huntington berubah menjadi kurang optimis dengan prospek demokratisasi di beberapa negara semisal Mongolia, Sudan, Pakistan, Nicaragua, Romania, Bulgaria, Nigeria, dan El Salvador. Bahkan ia cenderung pesimis terhadap prospek demokratisasi terutama di negara-negara yang dikenal sebagai pengikut ajaran marxisme-leninisme. Huntington juga tidak menyembunyikan keraguannya terhadap masa depan demokratisasi di negara-negara Islam dan di beberapa negara Asia Timur sebagai akibat beberapa doktrin Islam dan konfusianisme yang dalam pandangannya cenderung bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.

Tapi keraguan Huntington terhadap perkembangan demokrasi di Negara Islam atau Timur Tenggah terjawab hari ini. Revolusi melati  yang berawal dari  Tunisia, yang menurut penulis adalah  terinspirasi dari buku  Gelombang Demokrastisasi Ketiga Huntington, memberi petunjuk bagi demokratisator tentang bagaimana menurunkan pemerintahan yang otoriter maupun mengkonsolidasikan rezim demokrasi.  

Runtuhnya pemerintahan otoriter di Tunisia akibat revolusi melati yang menumbangkan rezim Ben Ali dan  runtuhnya rezim Hosni Mubarak di Mesir, dan menjalar virus tersebut ke Libya, menandai arus perubahan besar sedang bergolak di Timur Tengah atau negara Islam, sekarang giliran Negara Arab yang diseret demokrasi gelombang  4 (keempat). Penulis melihat bahwa Huntington terlambat untuk melihat gelombang demokratisasi keempat yang awalnya Huntington pesimis akan terjadinya demokrasi di negara Islam, sebab Islam bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi akhirnya terbantahkan. Demokratisasi di Negara Arab disambut dengan antusiasme dan nostalgia.

Penulis melihat output atau pesan yang ingin disampaikan oleh Huntington pada Bab satu gelombang demokratisasi ketiga lebih menjelaskan, bahwa demokratisasi memang lebih baik dibandingkan dengan otoritarianisme, namun tetap saja gagasan Huntington tentang gelombang ketiga demokratisasi harus kita terima kritis namun tetap objektif dan terbuka.

Menurut pandangan penulis apa yang ditulis oleh Huntington dengan tegas memperbandingkan demokrasi dengan otoritarianisme. Perbandingan ini tentu cerdas namun sedikit banyak secara konseptual menciptakan kondisi yang menggiring kita untuk “mensyukuri” demokratisasi yang lahir menggantikan rezim otoritarian. Menumbangkan rezim otoritarian memang sebuah capaian positif yang bahkan dalam konteks sebagai  bangsa pernah dialami Indonesia pada 1965 dan 1998.

You are here: Home Makalah Pakar Politik|Pangi Syarwi:Demokrasi dan Demokratisasi