Login Form

Pangi Syarwi

"Bersama Membangun Bangsa"

Pakar Politik|Pangi Syarwi: Pemikiran Nasionalisme Soekarno

Oleh: Pangi Syarwi

Nasionalisme muncul di negara yang dijajah, putra pribumi yang belajar keluar negeri mereka telah mendapat materi tentang kebangsaan, seperti yang diperoleh dan diperkenalkan oleh Ernest Renan pada tahun 1882, yang membuka paham tentang kebangsaaan (Nation), pada dasarnya ajaran yang diajarkan adalah tentang suatu nyawa, azaz akal, rakyat yang harus bersama-sama menjalani suatu riwayat. Kedua rakyat secara bersama harus punya kemauan untuk bersama, keinginan hidup untuk menjadi satu.  Bangsa itu adalah persatuan perangai yang terjadi dari persatuan hal ikhwal  yang telah dijalani oleh rakyat itu , Nasionalisme juga suatu iktikat , suatu keinsyafan rakyat, bahwa rakyat itu ada satu golongan satu bangsa.

Soekarno mengiginkan bersatunya paham Nasionalisme dengan Islamisme dan Marxisme, kenapa mereka harus bersatu, karena prinsip persamaannya kita sama-sama dijajah, apakah Nasionalisme dalan penjajahan dapat bersatu dalam Islamisme, yang pada hakikatnya tiada bangsa, yang dalam lahirnya dipeluk oleh berbagai macam, bangsa, ras, etnis. Apakah Nasionalisme  itu dalam politik kolonial bisa rapat  diri dengan Marxisme yang internasional.

Menurut penulis hanya itu roh semangat yang diimpikan dan ide, gagasan yang selalu di perjuangkan oleh Soekarno, tidak menonjolkan suatu yang dominan, dalam perbedaan tapi justru bersatu dalam perbedaan idiologi tersebut, tetapi yang terjadi sekarang justru suara yang minoritas tidak mendapat tempat di negeri ini, bahkan dikucilkan dalam proses pengambialan keputusan itu sendiri.

Konsep ini kita kenal seperti Islam dalam bingkai kemanusian dan keindonesia yang disampaikan oleh syafii Maarif  dan juga selalu ide ini di perjuangkannya, menurut penulis hampir sama ide Syafii Maarif dengan Soekarno, Nasionalisme menurut Soekarno bukan Nasionalisme chauvinism, akan tetapi nasionalisme yang sejati, nasionalisme bukan copy atau tiruan dari  Nasionalisme Barat, akan tetapi timbul kecintaan kemanusian dan keindonesian itu sendiri.  

Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat perkasanya Tuhan, membuat kita menjadi hidup di dalam roh, membuat kita insyaf, bahwa kita adalah bagian dari Asia, dan Asia bagia dari dunia, dan penduduk dunia adanya kita kaum pergerakan , sebagai abdi Asia, abdi, hamba, dan abdi yang menderita. Anti kapitalisme, walaupun kapitalisme bangsa sendiri, tapi dijanjikan pula untuk menerangkan, bahwa kita dalam perjuangan kita  mengejar Indonesia yang merdeka , tidak semata mata perjuangan kelas, tetapi harus mengutakan perjuangan Nasionalisme, mengutamakan perjuangan kebangsaan, tidak harus melawan ketamaan kapitalisme , tetapi kita harus mendidik rakyat agar benci kepada kapitalisme , kita harus melawan kapitalisme bangsa sendiri tapi mengutamakan perjuangan Nasional, Mengutip apa yang disampaikan oleh Jawahral Nehru dalam kongresnya mengatakan jangan terus terang dengan seorang sosialis, juga anti segala kapitalisme, tapi kita tidak boleh lupa bahwa Jawahral Nehru juga seorang Nasionalisme.

Menurut penulis, pemikiran Soekarno terhadap kapitalisme, mengkritik, segala kejelekan kapitalisme yang ketika itu bersifat imperialism bukan dalam arti kapitalisme dalam bentiuk penjajahan secara ekonomi, begitu luar biasanya Soekarno pemikirannya tentang kapitalisme, yang mengatakan tidak memihak secara terus terang kepada sosialis, tapi penulis melihat bahwa Soekarno telah dipengaruhi oleh pemikiran Marxisme, yaitu konsep melawan ketertindasan kelas bawah atas negara yang menjajah itu sendiri.

Inilah yang kita rasakan gersang pemikir Negara kita hari ini, yang menjadi kegelisan kita adalah, tidak hanya kapitalisme yang melebar, membuat pemisah antara si kaya dan si miskin, kelas Proletar dengan kelas Aristokrat, tidak hanya itu menurut penulis sekarang, tapi munculnya korupsi yang yang sudah mengurita adalah akibat hilangnya roh Nasionalisme yang di sampaikan oleh Jawahral Nehru, yang sederhana tetapi cinta akan rakyat dan bangsanya. Kenapa pemikir seperti Jawahral Nehru ini mulai hilang di negeri ini.

 Penulis dalam tulisan ini juga melihat, Soekarno juga punya pemikiran tentang Sekularisme, selain pemikirannya tentang Nasionalisme, Kapitalisme, Marxisme, itulah ragam pemikiran Soekarno, tapi inti dari gagasan dan buah pemikirannya tidak lain adalah  nation state.  Setelah kemenangan Turki dibawah rezim Mustapa Kemal attartuck yang begitu fenomenal, telah mengubah bentuk dan sistem Negara Turki itu sendiri, Kemal merasa ketika agama tidak dipisahkan dengan Negara, Turki telah menjadi Negara yang tinggal dibandingkan dengan Negara Eropa lain, Turki menjadi kolot. Untuk memajukan dan modernitas Turki maka perlu kemudian agama dipisah dari Negara, bukan berarti agama dibuang tidak, tapi diletakkan pada tempatnya, dengan begitu agama akan semakin tumbuh subur dan berkembang.

Sejak itulah kemudian simbol-simbol agama dibuang di Turki, tidak boleh azan, kemudian melarang memakai jilbab, dan lain-lain. Menurut penulis ketika orang sudah mulai tidak nyaman dengan mengunakan simbol- simbol agama berarti ini adalah sebuah jalan menuju atheisme. Tapi hari ini ada perubahan di Turki, orang di Turki sekarang mengatakan anti agama, tapi sekarang memang Turki modern, yang sebenarnya tidak anti agama, mulai banyaknya sholat jemaah di Mesjid adalah bentuk munculnya sekulerisme paham muda, yang melonggarkan paham sekulerisme tua.

Inilah yang dilihat oleh kemal Attartuck ketika sebelum rformasi agama terjadi di Eropa, yaitu pada masa kegelapan sebelum masa pencerahan atau renaissance, dimana dominasi gereja yang  telalu kuat, melalui kardinal-kardinal Gereja, bahkan raja hanya simbol, raja dibuat tidak berdaya oleh kardinal. Pada massa ini kekuasaan berada di tangan gereja bukan ditanggan raja, selama 500 tahun bangsa eropa mengalami masa kegelapan. Inilah yang menjadi inspirasi dari kemal Attartuck, kalau Turki tidak ingin tertinggal dibandingkan negara lain di Eropa maka konsekuensinya agama dan simbolnya harus dilepas dari Negara. Artinya urusan agama adalah urusan gereja dan negara adalah urusan raja.

Kembali kepada pemikiran soekarno tentang Sekularisme, yang menceritakan apakah alasan-alasan ekonomi dari pemimpin-pemimpin Turki untuk memisahkan agama dari Negara, alasan ekonomi, prakteknya umat Islam di Turki tak mampu meningkatkan perekonomian di Turki, bahkan cenderung melemahkan dan mengendorkan keadaan ekonomi di Turki, bukan ajaran Islam yang mereka maksud, bukan pengajaran Islam, tetapi dalam prakteknya umatnya bersatu dengan Negara, kita tidak mencela Islam. Sekularisme juga mempengaruhi pemikiran soekarno dalam bentuk negara Indonesia apakah negara Islam atau  negara republik, setidaknya Soekarno melihat dari pemikiran Kemal Attartuc.

 Islam memang mayoritas, secara kultural,  sosial,  tapi yang menjadi pertanyaan apakah Islam dominan secara politik, ternyata Indonesia tidak bisa menjadi negara Islam, terbukti pada pemilu 1955, kekuatan Islam  sendiri tidak muncul sebagai pemenang dominan, karena partai Islam terpecah. Masyumi dan NU, kekuataannya sebagai dominan secara politik tidak keluar, maka sampai sekarang kita tidak pernah menjadi Negara Islam.  Logikanya menurut penulis yang menjadi latar belakang kenapa sampai sekarang kita tidak bisa menjadi negara Islam seperti Malaysia, yang dominan secara kultural dan politik,   

  

 

 

 

You are here: Home Makalah Pakar Politik|Pangi Syarwi: Pemikiran Nasionalisme Soekarno