Login Form

Pangi Syarwi

"Bersama Membangun Bangsa"

Analisis Politik|Pangi Syarwi: Marketing Politik

 

Identitas Tesis ke 5 (Lima): Sofyan Imam, 2007, Marketing Politik Kandidat Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bojonegoro: Universitas Airlangga.

Judul Tesis

Marketing Politik Kandidat Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bojonegoro

Penulis

Sofyan Imam

Penerbit

Univeristas Airlangga

Tahun Terbit

2007

 

Marketing Politik Dan Industri Citra

Kandidat dapat mencitrakan diri sebagai orang atau partai yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi sehingga imbasnya memperoleh simpati khalayak. Sebuah peristiwa luar biasa, dengan sendirinya memikat media untuk meliput. Sehingga partisipasi dalam peristiwa semacam itu, sangat menguntungkan kandidat. paid publicity sebagai cara mempopulerkan diri lewat pembelian rubrik atau program di media massa. Misalnya, pemasangan advertorial, iklan spot, iklan kolom, display atau pun juga blocking time program di media massa. Secara sederhananya dengan menyediakan anggaran khusus untuk belanja media.

Masyarakat luas masih banyak yang mempunyai persepsi negatif terhadap istilah marketing politik. Hal ini bisa terjadi karena marketing politik diidentifikasikan sebagai penjualan sebuah produk industri dan bahkan sebagian orang menganggap marketing politik sebagai bentuk dari komersialisasi atau Amerikanisasi politik.

Sesungguhnya marketing politik sudah lama berjalan di Indonesia, seperti di jaman Orde Baru banyak spanduk-spanduk berisi tentang ajakan bergabung untuk mengikuti tabligh akbar atau musyawarah daerah dan lain- lain, dipasang besar-besaran di tempat-tempat yang strategis.

Lebih jauh, marketing hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang jual menjual barang, melainkan disana terkait dengan masalah produk development, image building, inovasi, pemahaman terhadap konsumen dan sampai pada proses-proses yang sifatnya relasional. Oleh karena itu, marketing dipakai di banyak aktivitas, seperti di Gereja, Museum, Rumah Sakit dan juga di dalam politik.

Marketing Politik Instrumen Kemenangan

Marketing baru signifikan, jika disana terdapat persaingan. Untuk memenangkan persaingan diperlukan instrumen dan marketing menyediakan berbagai instrumen yang diperlukan untuk memenangkan persaingan tersebut. Dan bagi partai politik serta politisi persaingan menjadi menu utama. Berangkat dari sana, maka marketing politik bagi partai politik dan politisi mejadi alat yang cukup penting.

Di era global, marketing politik menjadi hal yang tak dapat lagi ditinggalkan, pertanyaannya adalah sejauh mana partai politik dan politisi mampu membuat marketing politik yang efektif. Struktur masyarakat telah berubah secara dinamis, dimana masyarakat lebih mandiri, transparan, mobilitasnya tinggi, mempunyai peluang untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi yang sangat besar dan dengan biaya yang terjangkau.

Agar marketing politik dapat efektif, maka partai politik atau politisi harus mampu merumuskan satu fokus atas sasaran yang akan dituju. Partai politik harus mampu mengenali konstituennya, simpatisannya dan terus menerus mengamati apa yang dilakukan oleh para pesaingnya. Dengan demikian, maka partai politik akan mampu merumuskan ”Citra Target” yang diinginkan dan mempunyai fokus dalam membidik targetnya.

Partai politik harus mampu membuat komunikasi politik sesuai dengan karakter masyarakat yang sedang menjadi target. Apabila target yang akan dicapai adalah para petani, maka tema yang dibicarakan lebih banyak berkisar soal-soal pertanian, seperti pupuk. Dan untuk meyakinkan mereka atas produk politik yang harus mereka pilih, maka partai politik tidak cukup berkampanye jika mendekati pemilu saja, melainkan kampanye harus dilakukan secara permanen, kontinyu dan berkesinambungan atau dapat disebut kampanye politik.

Sebelumnya, masyarakat kekurangan informasi politik, tetapi saat ini masyarakat telah kebanjiran informasi politik. Dalam situasi semacam ini, partai politik harus pandai-pandai mengemas informasi politik, sehingga informasi politik tersebut dapat diterima dengan baik oleh publik yang menjadi sasaran pembentukan citra.

Citra dalam politik memegang peran yang sangat besar. Apabila citra seseorang sudah terlanjur rusak, maka sangat sulit untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, dalam pencitraan, semua harus dihitung dengan akurasi dan presisi tinggi. Dan citra partai tidak ada gunanya, apabila tidak dibarengi dengan kondisi riil di dalam partai politik itu sendiri.

Pemahaman Dan Realitas

Kekhawatiran akan rusaknya sistem sosial akibat perkawinan ini tampaknya ingin disanggah oleh Firmanzah dengan mengutip statement A. O’Cass yang berkisar pada kontekstualitas marketing. Marketing kata O’Cass secara filosofis menjadi suatu tools untuk mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat (baca: pemilih).

Dengan demikian, aplikasi marketing dalam politik justru membantu para kontestan ataupun partai politik untuk mengetahui aspirasi masyarakat secara komprehensif. Hal ini pada akhirnya akan memudahkan parpol atau kontestan untuk menyusun platform-nya ketika berkampanye ataupun setelah berkuasa.

Konseptualisasi Marketing Politik  Menurut Bruce I Newman

Di dalam tulisan lainnnya dibuku lain, Newman menulis tentang formula kesuksesan marketing politik yang mestinya mengikuti beberapa aturan dasar. Pertama, menyediakan waktu yang banyak untuk mempelajari kebutuhan dari target kustomers. Kedua, membuat team pengembangan customer. Ketiga, mendapatkan dukungan dari seseorang yang berkedudukan tinggi di organisasi dan orang yang siap menjadi pembela, menyediakan banyak waktu untuk mengumumkan produk baru, kesuksesan pengembangan produk baru meminta organisasi untuk memapankan sebuah organisasi yang efektif untuk menangani proses pengembangannya.

Dalam definisi lainnya, Pfau dan Parrot mendefinisikan kampanye sebagai  Campaign isconscious, sustained and incremental process designed to be implemented over a specified periodof time for the purpose of influencing a specified audience (kampanye adalah suatu proses yang dirancang secara sadar, bertahap dan berkelanjutan yang dilaksanakan pada rentang waktu tertentu dengan tujuan mempengaruhi khalayak sasaran yang telah ditetapkan.

Seting tujuan dan strategi kampanye misalnya menyangkut positioning latar belakang dan qualifikasi, pesan utama kampanye, pemilihan isu dan solusi konsep pribadi kandidat dll. Komunikasi, distribusi dan perencanaan organisasi (communication, distribution andorganization plan). Tahap ini misalnya menekankan pada sosok penampilan, publisitas, iklan dan pemilihan pesan, format serta desain medianya. Termasuk penyiapan organisasinya misalnya saja, fundraiser and development staff, Issue and Research Staff, Media and Publicity Staff, Voulenteers and Party Workers. 

Inti Tulisan dan Komentar  Terhadap Tesis

Penulis mengutip hasil penelitian tesis yang pernah dilakukan oleh Sofyan Imam, dengan judul tesis: ”Marketing Politik Kandidat Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bojonegoro” di Tahun 2007 Universitas Airlangga. Dalam penelitian tersebut mengunakan pendekatan pola kampanye atau Positioning yang dilakukan oleh kandidat, dengan fokos atau yang mau diteliti dalam penelitian tersebut adalah visi misi, pidato ketika kampanye, program kerja dan person dan personalitas kandidat,  dengan cara promosi politik dan segmentasi politik yang diterapkan di dalam kegiatan kampanye.

Dalam tesis tersebut penulis juga menjelaskan bahwa dalam aktifitas kampanye juga banyak diwarnai  berbagai pendekatan, mulai dari  pengunaan saluran struktural sosiokultural, pendekatan personal, kampanye publik melalui special event, rapat umum terbuka aktifitas kampanye dilakukan dijalankan sebagai promosi politik. Masing masing kandidat terbukti mengunakan strategi yang berbeda dan berlawanan. Suyanto lebih menerapkan pola kampanye dengan pendektan push marketing untuk membangun dan mendekatkan image politik kepada publik.[1]

Penelitian ini mengkaji tentang praktik marketing politik yang dilakukan oleh kandidat dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) kabupaten Bojonegoro di tahun 2007. Kampanye politik yang dirancang dan dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip marketing penting untuk diamati mengingat wacana praksis tersebut kian dominan pada masa demokrasi langsung. 

Pemilihan Bupati Bojonegoro periode 2008-2013 yang digelar pada 10 Desember 2007 lalu menjadi setting penelitian menarik sehubungan dengan praktik marketing yang dilakukan leh kandidat dalam mengkampanyekan produk  politiknya, menjelang dan selama masa kampanye. Persaingan dalam memperebutkan antensi dan simpati masyarakat tersebut, terjadi dan dilakukan melalui serangkaian aktifitas komunikasi politik yang dirancang, diskenario, dan dikontrol untuk menghasilkan kesan politik (impression of politics) sebagaimana diinginkan.

Personalitas kandidat, visi misi dan program politik niscaya didistribusikan kepada publik dengan menggunakan teknik-teknik marketing  Studi ini bermaksud untuk mendeskripsikan praktik marketing politik dan pola kampanye yang dilakukan oleh kandidat. Dengan menganalisis setiap tahapan proses marketing politik, mulai dari produk politik (visi misi, program kerja dan personalitas kandidat), promosi politik, harga politik, penempatan atau positioning politik, dan segmentasi politik yang diterapkan, serta berbagai aktifitas kampanye politik kandidat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik marketing politik yang dilakukan oleh kandidat baik Suyoto maupun M. Thalhah banyak terdapat penerapan strategi yang cukup berlawanan. Dalam hal pengemasan produk politik, yakni visi misi dan program politik, Suyoto banyak menggalinya dari permasalahan di lapangan sesuai aspirasi rakyat. Sementara M.Thalhah lebih berangkat dari preferensi pribadi berkenaan dengan kinerja pemerintahannya di masa lalu. ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga Tesis Marketing Berkaitan dengan itu, penelitian menyatakan  suatu proposisi terkait dengan komponen produk politik, yakni (1) semakin produk politik  tersebut mampu dikemas sesuai harapan atau setidaknya mencerminkan keinginan pemilih, semakin pula produk politik tersebut dapat diterima oleh masyarakat. (2) Semakin karakteristik personal dan masa lalu kandidat mencerminkan aspek positif dalam sesuatu hat, semakin pula menumbuhkan keyakinan dan kredibilitas kandidat tersebut dimata pemilih.

Penulis juga tidak setuju ketika ada yang  mengatakan dalam judul atau bab yang dibahas dalam tesis tersebut mengatakan strategi marketing politik, yang namanya marketing politik tentu bagian tidak terpisahkan dari strategi, marketing politik sudah pasti ada didalamnya strategi untuk memenangkan sebuah kompetisi, namun di dalam strategi belum tentu unsur marketing politik terpenuhi secara keseluruhan.

Dalam aktiftas kampanyenya juga banyak diwarnai dengan berbagai pendekatan. Mulai dari penggunaan saluran dan struktur sosiokultural, pendekatan personal, kampanye publik melalui special events, rapat umum terbuka,  dan dialog publik. Aktifitas kampanye itupun, dijalankan sebagai bagian dari promosi politik.  Masing-masing kandidat terbukti menggunakan  strategi yang berbeda dan berlawanan. Suyoto lebih menerapkan pola kampanye dengan pendekatan push marketing, sementara M. Thalhah lebih menggunakan pola kampanye dengan pendekatan pass marketing untuk membangun dan mendekatkan image politiknya kepada publik.

Identitas Tesis ke 6(Enam): M. Alfan Alfian M., 2009, Menjadi Pemimpin Politik:Perbincangan Kepemimpinan dan Kekuasaan:Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

    

Judul Tesis

Menjadi Pemimpin Politik:Perbincangan Kepemimpinan dan Kekuasaan

Penulis

M. Alfan Alfian M

Penerbit

PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit

2009

 

Tulisan Alfan Alfian dengan judul menjadi pemimpin politik “perbincangan kepemimpinan dan kekuasaan ternyata Alfian sudah menjelaskan dan menganalisa lebih jauh dibahas secara khusus pada halaman 301 strategi dan marketing politik. Pada halaman 301 berbicara strategi  saja dan halaman 305 berbicara tentang marketing politik. Dalam buku tersebut pada Bab IV Manajemen kepemimpinan politik yang ditulis oleh Alfan Alfian. Termasuk Firmanzah, Adman Nursal membuat dan menulis buku tentang marketing politik yang menjadikan ia terkenal.  . Di tengah era demokratisasi, strategi-strategi marketing merupakan cara yang tepat untuk menghasilkan kemenangan dalam pemilihan umum. Marketing, yang diadaptasi dalam dunia politik dapat digunakan sebagai sarana memasarkan kandidat dalam memenangkan pemilihan.

Strategi itu sendiri selalu memiliki tujuan, yakni kemenangan. Kemenangan akan tetap menjadi fokus, baik tercermin dalam mandat, dalam perolehan memperoleh suara mayoritas untuk menguatkan dan memberlakukan sebuah aturan dan kebijakan. Bagaimana kemenangan itu digunakan, itulah tujuan politik yang ada dibalik hasil yang muncul dipermukaan.

  1. Pertarungan untuk memperoleh kekuasaan yaitu politik dan strategi kedua hal tersebut harus berjalan beriringan. Ini merupakan pertanyaan yang berulang kali diajukan oleh para politisi dan partai, jawaban yang bisa diberikan adalah “kita tidak berada dalam situasi perang”. “atau lawan politik kita bukan musuh”.

 

  1. Strategi-strategi politik; strategi yang digunakan untuk  merealisasikan cita-cita politik. Contoh pemberlakuan aturan baru, pembentukan struktur baru dalam administrasi pemerintahan atau dijalankannya program deregulasi privatisasi atau desentralisasi.

 

  1. Strategi untuk kampanye pemilihan umum; merupakan bentuk khusus dari startegi politik, tujuannya adalah untuk memperoleh kekuasaan melalui legitimasi yang di berikan oleh rakyat melalui pemilihan umum, dan punya pengaruh sebanyak mungkin dengan cara memperoleh hasil yang baik dalam pemilu.

 

  1. mendorong kebijakan-kebijakan yang dapat mengarah kepada perubahan masyarakat.

 

Peter Schroder mengatakan bahwa langkah terpenting dalam perencanaan strategi politik adalah memilih sub strategi sebagai jalan keluar dari kelemahan yang telah diidentifikasi dan memilih kekuatan yang akan digunakan  untuk menyerang kelemahan kawan. Pada dasarnya Schroder menjelaskan selalu ada sub strategis yang khusus dikembangkan bagi setiap kelemahan-kelemahan tersebut sehingga respon yang tersedia tidak terbatas pada suatu jawaban melainkan ada beberapa alternatif lain.

 

Pemilihan strategi berkisar pada penemuan solusi yang efektif dan sehemat mungkin memanfaatkan sumber daya yang memiliki kemungkinan besar  untuk dapat diterapkan dalam praktek. Lebih jauh penulis mengambarkan solusi harus bisa mengintegrasikan sub strategi ke dalam strategi secara keseluruhan dan tidak saling bertentangan.

 

Strategi dalam berpolitik, kita perlu menyusun strategi untuk merencanakan, memproleh dan menjaga kekuasaan. Persis tujuan ini tidak dapat dicapai tanpa ada strategi jitu untuk mencapainya.  Istilah “strategi” dalam keseharian bukanlah kata yang asing lagi. Saya ingin mengatakan bahwa strategi bagian dari unsur  yang tida terpisahkan dari political marketing, setidaknya saya melihat dari pengertian political marketing itu sendiri.

 

Saya meminjam dan mengutippendapat Adman Nursal mengatakan bahwa political marketing adalah serangkaian aktifitas terencana, strategis tapi juga taktis, berdimensi jangka panjang dan jangka pendek, untuk menyebarkan makna politik kepada pemilih. Pemasaran politik memang tidak  menjamin sebuah kemenangan, tapi menyediakan  alat bagaimana menjaga hubungan dengan pemilih untuk membangun kepercayaan dan selanjutnya memperoleh dukungan suara.

 

Dapat diamati bahwa alur dari pemasaran politik yaitu diawali  dengan negosiasi nilai dan berakhir dengan transaksi berupa jatuhnya pilihan politik. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kajian pemasaran politik sangat berkaitan dengan kajian ilmu komonikasi utamanya komonikasi politik.  Berkaitan dengan kajian ilmu komunikasi utamanya komunikasi politik seperti apa yang disampaikan Adman Nursal, political marketing pada dasarnya adalah menebar makna untuk menjaring massa.

 

Pemasaran Politik

Dalam demokrasi langsung pemasaran tokoh sangat penting, tokoh politik pantas mengetahui hal ini, terutama ditengah ketatnya kompetisi politik. Buku Hermawan yang saya rujuk berjudul marketing yourself. Buku ini kecil dan tipis, tapi memuat prinsip-prinsip yang sangat bermanfaat bagi pemasaran pribadi dan pemasaran partai politik.

 

Sebelum menguraikan sembilan prinsip tersebut, Hermawan menguraikan sebuah konsep yang ia sebut sebagai PDB (positioning, diferensiasi-brand). Menurut Hermawan, pertama-tama anda harus memposisikan diri dengan jelas dibenak pelanggan. Ingat positioning yang kita bangun sesungguhnya adalah janji anda kepada pelanggan.

 

Dalam pemasaran politik, kata pelanggan mari kita ganti dengan kata publik, rakyat, masyarakat, calon pemilih dan konstituen. Mengikuti Hermawan, agar janji yang terumuskan dalam positioning memiliki kridibilitas dan dipersepsi oleh calon pemilih anda. Janji tersebut harus digunakan dan diferensiasi yang kuat. Positioning  yang didukung oleh diferensiasi yang kokoh akan menghasilkan brand integrity yang kuat. Brand integrity yang kuat ini akan menghasilkan  brand image yang kuat yang pada akhirnya akan memperkuat positioning yang telah ditentukan sebelumnya.

 

Inti dan Komentar Tentang Tulisan

 

Stategi kampanye untuk memperoleh kekuasaan seringkali dipandang sebagai sesuatu yang buruk bahkan oleh partai politik itu sendiri, tetapi dengan kekuasaan yang dimiliki oleh politisi atau partai sendiri, maka konsep politik pihak inilah yang akan diterapkan. Pertempuran untuk kekuasaan akan berdampak buruk dan merugikan budaya politik apabila dijalankan tanpa konsep, tanpa perencanaan untuk perubahan masyarakat, tanpa kerangka politik diperlukan untuk pembangunan atau kata lain keinginan untuk memperoleh kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri. Pengaruh berbagai budaya terhadap perumusan strategi, perlu diingat bahkan mekanisme pengambilan keputusan  strategis dan pemikiran strategis tidak tergantung pada perbedaan geografis budaya ataupun perbedaan lainnya. Strategi diarahkan pada sebuah penolakan sasaran, untuk mencapai sasaran ini, prasyarat yang dibutuhkan  dibuat melalui perencanaan.

 

Tatapi  menurut saya, bagaimanapun budaya sangat mempengaruhi jenis strategi yang digunakan, karena budaya merupakan bagian dari kondisi lingkungan yang spesifik, meskipun pengaruhnya jauh akan lebih besar ditingkat taktis. Pada akhirnya pada budaya yang terbuka pada  sikap konflik ataupun budaya yang berlandaskan kepada musyawarah mufakat hanya relevan untuk keputusan-keputusan taktis. Ini artinya adalah faktor budaya seperti oreantasi agama sosial dan latar belakang sejarah, bentuk komonikasi tertentu  ini patut untuk dipikirkan dalam penyusunan strategi taktis.

 

Mencermati dan menganalisis  tulisan yang ditulis oleh M. Alfan Alfian, ia menjelaskan pada bukunya menjadi pemimpin politik, disitu dijelaskan bagaimana merekomendasikan untuk menerapkan ilmu pemasaran secara umum ke dalam pemasaran politik. Di dalam bukunya Menjadi Pemimpin Politik dia menyampaikan, kalau anda  politisi atau tengah memasuki dunia politik, improvisasikan saja ilmu dan saran Hermawan Kartajaya di atas.  Rumus atau tips diatas berlaku bagi individu atau lembaga politik, tentu harus sesuai dengan konteksnya.

 

Prinsip Hermawan Kertajaya tentang pemasaran yang mengidentifikasikan keperluan kita kemudian, menetapkan langkah-langkah jitu untuk memasarkan diri pada lembaga politik. Prinsip pertama,  kita harus  jeli dalam melihat pasar jangan hanya melihat secara umum tapi melihat secara detail, mengelompokkan organisasi yang kira-kira hampir sama kedalam segmen-segmen, dan kemudian mencoba untuk memahami kharakteristik masing-masing segmen. Prinsip kedua, yaitu sebelum menentukan targeting  kita harus tahu dulu apa yang menjadi potensi atau kekuatan kita, memastikan bahwa segmen pasar yang kita tuju mempunyai possibility yang besar untuk menerima, kemudian membidik target pasar seperti sinepers, pakailah waktu, energi, pikiran utama, terutama untuk target pasar.

 

Prinsip ketiga, melihat kemampuan dan potensi diri kita, buat orang percaya pada kita bahwa kita adalah orang unik dengan membuktikan keunikan tersebut sampai kostumer percaya sama kita, dan tunjanglah, kalau perlu dengan track record  selama ini supaya positioning dipercaya dan mendapat kridibilitas.

Menurut penulis strategi marketing politik dalam bab 4 halaman 301 yang secara khusus dibahas oleh  Alfan Alfian ini yang mestinya pantas direnungkan dan diperhitungkan oleh pengurus Parpol dan para Caleg sebelum melangkah. Mestinya mereka melakukan audit terhadap strategi kampanye yang dijalankan. Bila tidak, apa yang dilakukan boleh jadi malah kontraproduktif. Alih-alih masyarakat simpati, yang didapat malah antipati. Hal ini juga menandakan bahwa sebagian besar pengurus Parpol dan Caleg tidak memiliki konsep dan perencanaan jelas dan matang.

 Saya melihat model kampanye konvensional dengan pemasangan alat peraga seperti itu mestinya sudah ditinggalkan. Parpol dan Caleg mestinya bisa bermain lebih cerdas, cantik dan bermartabat. Alat peraga memang masih dibutuhkan, namun jumlah, cara pemasangan dan pemilihan tempat harus dilakukan dengan pas dan tepat secara terintegrasi. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah strategi marketing politik yang disusun secara terencana dan terukur.

Di dunia barat, marketing politik diyakini sebagai metode dan instrumen yang dapat membantu politisi dan Parpol untuk dapat bersaing dan memenangkan persaingan. Secara konsep, marketing politik tidak jauh berbeda dengan marketing yang digunakan dalam dunia bisnis. Dalam dunia bisnis, pengusaha menjual produk, sedangkan dalam dunia politik, politisi menjual visi, misi dan program kepada masyarakat. Agar jualannya laku mereka harus memahami dan mengenal siapa audiennya, sehingga bisa membidik target secara tepat. Untuk itu pengurus Parpol dan Caleg seyogianya belajar dan menerapkan marketing politik.

 

Menurut penulis buku yang ditulis oleh Alfian  yang membahas dua tema besar yang sudah banyak didiskusikan sejak jauh dimasa lalu, bahkan sejak awal hadirnya peradaban manusia, namun tetap menarik dari masa lalu sampai dengan masa yang akan datang. Yakni kepemimpinan (leadership), dan kekuasaan (power). Dua tema tersebut secara khusus juga ada bab yang membahas tentang strategi marketing yang memperdalam analisis tentang cara untuk memperoleh kekuasaan melalui marketing politik.

 

 

 


[1]Penelitian tesis oleh Sofyan Imam, dengan judul tesis: Marketing Politik Kandidat Dalam   Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bojonegoro di Tahun 2007. Universitas Airlangga.

 

You are here: Home Makalah Analisis Politik|Pangi Syarwi: Marketing Politik